Belajar Mengaji

Sudah satu tahun ibu yang kami sayangi meninggal dunia. Tepatnya 7 Maret 2009 yang lalu. Hingga seumurku ini tentu banyak sekali kenangan yang tercipta, maklum saya termasuk anak yang beliau banggakan…hehee…. Dan itu juga yang menjadi kebanggaanku, disayang oleh orang tua dan menyayangi mereka.

Saya adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara. Namun beliau sangat sayang sekali dengan saya. Pernah suatu hari beliau sangat marah dengan saya, yaitu waktu saya belajar mengaji dengan orang lain. Pada waktu itu saya merasa heran kenapa beliau begitu marah. Setelah saya sadari, beliau patut marah kepada saya. Kenapa? Karena ibuku itu adalah seorang guru mengaji di kompleks kami tinggal. Heeehee…dan yang mengajar saya pun terheran kenapa saya mau belajar mengaji dengannya yang hanya murid ibuku juga.

Waktu belajar mengaji dengan ibuku, saya merasa selalu saja ada yang salah. Itu mengapa saya mencoba mencari guru ngaji yang bisa “jalan terus” tanpa dipotong ketika membaca Quran. Dan itu benar-benar salah. Dalam membaca Al-Quran, yang salah dan benar harus jelas karena klo kita salah ucap saja bisa berubah arti…waah…waahh…gawat. Coba bayangkan kalo kita salah ucap, bisa-bisa bukan tunjukkan jalan yang benar tapi bisa juga berarti tunjukkan jalan-jalan orang yang tidak benar…kan benar-benar kacau tuh…

Akhirnya saya pun sadar dan kembali diajar oleh ibuku. Sungguh pengalaman hidup yang menyenangkan dapat hidup dengan seorang ibu yang bisa mengaji dengan benar.

Saya yakin, semua orangtua pasti ingin anak-anaknya bisa mengaji dan belajar agama Islam dengan benar. Dan itu semua berawal dari kedua orangtua. Jika kedua orangtuanya sudah mengenalkan dan mendekatkan kepada agama sejak kecil niscaya anaknya menjadi anak yang baik. Yakinlah dengan itu, selamat mengajarkan anaknya mengaji…

Advertisement

~ by furQon on March 16, 2010.

3 Responses to “Belajar Mengaji”

  1. ayo Mirza.. belajar mengaji sama ayahnya yaaa…

  2. Kalau orang tuaku menyerahkan aku pada orang lain untuk belajar agama, ya karena keduanya bila pagi harus pergi ke sawah dan malam hari aku lihat keduanya lelah. Tapi aku tetap bangga pada keduanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.